🕷️ Crawler Inspector

URL Lookup

Direct Parameter Lookup

Raw Queries and Responses

1. Shard Calculation

Query:
Response:
Calculated Shard: 146 (from laksa023)

2. Crawled Status Check

Query:
Response:

3. Robots.txt Check

Query:
Response:

4. Spam/Ban Check

Query:
Response:

5. Seen Status Check

ℹ️ Skipped - page is already crawled

đź“„
INDEXABLE
âś…
CRAWLED
11 days ago
đźš«
ROBOTS BLOCKED

Page Info Filters

FilterStatusConditionDetails
HTTP statusPASSdownload_http_code = 200HTTP 200
Age cutoffPASSdownload_stamp > now() - 6 MONTH0.4 months ago
History dropPASSisNull(history_drop_reason)No drop reason
Spam/banPASSfh_dont_index != 1 AND ml_spam_score = 0ml_spam_score=0
CanonicalPASSmeta_canonical IS NULL OR = '' OR = src_unparsedNot set

Page Details

PropertyValue
URLhttps://pijarpsikologi.org/blog/curhat-move-on-dari-seseorang-yang-tak-mudah-dilupakan
Last Crawled2026-04-12 03:46:01 (11 days ago)
First Indexed2021-09-17 21:36:35 (4 years ago)
HTTP Status Code200
Content
Meta TitleCURHAT: Move On dari Seseorang yang Tak Mudah Dilupakan — Pijar Psikologi #UnderstandingHuman
Meta DescriptionSaya tidak bisa melupakan seseorang yang saya suka semenjak kita melakukan travelling bersama pada bulan September lalu. Saya sering menangis dan teringat momen perpisahan dengannya.
Meta Canonicalnull
Boilerpipe Text
Curhat Saya tidak bisa melupakan seseorang yang saya suka semenjak kita melakukan  travelling  bersama pada bulan September lalu. Saya sering menangis dan teringat momen perpisahan dengannya. Bahkan 2 minggu setelah berpisah saya masih merasakan kesedihan yang mendalam. Dia seorang Warga Negara Inggris. Saya memutuskan untuk tidak akan menemuinya lagi dikarenakan dia telah mempunyai pacar. Saya pun berpikir tidak akan bisa bersama dengan dia karena perbedaan agama dan  lifestyle . Semenjak kejadian itu produktivitas saya di kantor menurun. Saya tidak bisa fokus bekerja. Tiap saat dan tiap bangun tidur saya pasti teringat akan dia terus walaupun saya berusaha melupakan dia. Saya sudah coba untuk tidak melihat media sosial dan tidak menghubungi dia, tapi tetap saja dia sering muncul dari pikiran saya. Gambaran: Perempuan, 23 tahun, Pegawai Swasta Jawaban Pijar Psikologi Terima kasih sebelumnya saya sampaikan atas kepercayaannya karena sudah bersedia untuk bercerita di Pijar Psikologi. Wah rasanya pasti tidak nyaman sekali ya? Berusaha keras melupakan seseorang yang pernah dekat dan memiliki kesan yang mendalam karena ada hal-hal yang dirasa sulit untuk dilalui seperti dia punya pacar, ditambah ada perbedaan agama dan gaya hidup. Rasanya pasti sedih, patah hati, mungkin juga ada perasaan marah pada keadaan. Namun, dari cerita ini juga, saya bisa bilang kamu itu orang yang hebat. Kamu tahu bahwa mungkin kamu memiliki perasaan yang lebih ke dia dan bisa saja bersama kalau nekat dan tidak berpikir panjang dengan segala konsekuensinya. Namun, kamu memilih untuk mencoba merelakan perasaan tersebut demi kebahagiaan diri kamu. Kamu tahu banyak tantangan yang akan dihadapi untuk memperjuangkan dirinya, dan mungkin belum tentu kamu sanggup. Meskipun usaha kamu saat ini belum sepenuhnya berhasil, tidak apa-apa. Setidaknya kamu sudah berani mengambil suatu keputusan. Patah hati dan proses  move on  memang bukan hal yang mudah. Ketika tidak bisa dilakukan dengan perasaan lapang dada, maka proses tersebut bisa membuat kita terluka bukan hanya psikologis, namun juga fisik. Hingga akhirnya bisa berpengaruh negatif pada aktivitas yang dilakukan seperti, hubungan dengan keluarga dan teman, atau pekerjaan kita terganggu seperti yang kamu alami saat ini. Perlu kamu pahami juga bahwa antara pikiran, perasaan, perilaku dan reaksi fisik itu saling mempengaruhi. Ketika pikiran dipaksa melupakan sesuatu, maka perasaan juga bisa ikut terpengaruh menjadi tidak stabil. Begitu pula pada fisik, yang mungkin jadi sulit konsentrasi, kurang bersemangat, malas-malasan, dll. Berusaha untuk bangkit dan move on memang baik, tapi pahami bahwa memaksa diri untuk melupakan hal-hal yang mungkin belum siap dilakukan itu tidak akan membuat diri lebih baik.  Move on  bukan berarti melupakan hal-hal yang membuat kita sedih karena hal ini hanya akan membuat diri semakin merasa terbebani dengan “kewajiban” untuk melupakan. Kadang, alih-alih melupakan, tetapi justru sesuatu yang ingin kita lupakan tersebut akan sering muncul. Semakin kita berusaha keras melupakan, maka semakin keras pula kita mengingatnya. Oleh karena itu, berhentilah memaksa diri kamu untuk melupakan. Yang perlu kamu lakukan saat ini adalah menerima segala perasaan yang tengah kamu rasakan. Terimalah segala perasaan bersalah, marah, dan kecewa yang saat ini sedang melingkupi diri kamu. Terimalah bahwa kamu adalah manusia yang dilahirkan untuk memiliki perasaan bermacam-macam, tidak sekadar bahagia dan cinta. Seringnya, memaafkan keadaan atau orang lain terasa jauh lebih mudah dibandingkan memaafkan diri sendiri. Padahal orang pertama yang akan hadir saat dunia terasa runtuh adalah diri kita sendiri. Sebelum berusaha untuk memaafkan keadaan atau orang lain, coba belajar dulu untuk memaafkan diri sendiri. Maafkanlah diri atas segala yang sudah terjadi. Maafkanlah diri atas keputusan di masa lalu. Maafkanlah diri yang belum dapat merelakan segala yang sudah terjadi. Ketika kita telah memaafkan diri sendiri, semua hal yang terasa menyakitkan akan perlahan-lahan memudar. Pahami juga bahwa  move on  adalah sebuah proses subjektif. Tiap orang memiliki waktu masing-masing untuk melepaskan dan  move on . Selama kamu tahu bahwa kamu sedang berusaha untuk melangkah, percayalah bahwa semua pasti akan menjadi lebih baik. Setiap orang berhak memilih jalan hidupnya sendiri, begitupun dengan kamu. Kamu berhak memilih untuk merasa sedih atau bahagia. Kamu juga berhak memilih untuk tetap diam atau melakukan sesuatu. Kamu juga dapat memilih untuk meratapi masa lalu atau menatap masa depan. Kamu berhak untuk menjadi lebih baik di masa depan. Jangan memaksa untuk melupakan dan tetap nikmati proses ini sebagai bagian dari diri kamu untuk menjadi lebih baik. Terima kasih telah berbagi. Salam, Pijar Psikologi.
Markdown
[0](https://pijarpsikologi.org/cart) [Skip to Content](https://pijarpsikologi.org/blog/curhat-move-on-dari-seseorang-yang-tak-mudah-dilupakan#page) [Artikel](https://pijarpsikologi.org/blog) [Sumbang Tulisan](https://pijarpsikologi.org/sumbang-tulisan-old) [Cari Psikolog](https://pijarpsikologi.org/direktori-layanan) Buku [Yang Belum Usai](https://pijarpsikologi.org/yang-belum-usai) [Genesis](https://pijarpsikologi.org/genesis) [SEPI](https://pijarpsikologi.org/sepi) [Tentang Kami](https://pijarpsikologi.org/about) [Kontak](https://pijarpsikologi.org/contact) [![Pijar Psikologi \#UnderstandingHuman](https://images.squarespace-cdn.com/content/v1/600bbfebf983552f0a54b390/4a0230c1-ce82-4f3d-8446-5c2bcc32dfed/3+-+Pijar+Media+-+dark.png?format=1500w)](https://pijarpsikologi.org/) [Tes Kesehatan Mental](https://pijarpsikologi.org/tes-kesehatan-mental) Open Menu Close Menu [Artikel](https://pijarpsikologi.org/blog) [Sumbang Tulisan](https://pijarpsikologi.org/sumbang-tulisan-old) [Cari Psikolog](https://pijarpsikologi.org/direktori-layanan) Buku [Yang Belum Usai](https://pijarpsikologi.org/yang-belum-usai) [Genesis](https://pijarpsikologi.org/genesis) [SEPI](https://pijarpsikologi.org/sepi) [Tentang Kami](https://pijarpsikologi.org/about) [Kontak](https://pijarpsikologi.org/contact) [![Pijar Psikologi \#UnderstandingHuman](https://images.squarespace-cdn.com/content/v1/600bbfebf983552f0a54b390/4a0230c1-ce82-4f3d-8446-5c2bcc32dfed/3+-+Pijar+Media+-+dark.png?format=1500w)](https://pijarpsikologi.org/) [Tes Kesehatan Mental](https://pijarpsikologi.org/tes-kesehatan-mental) Open Menu Close Menu [Artikel](https://pijarpsikologi.org/blog) [Sumbang Tulisan](https://pijarpsikologi.org/sumbang-tulisan-old) [Cari Psikolog](https://pijarpsikologi.org/direktori-layanan) [Folder: Buku](https://pijarpsikologi.org/buku) [Back](https://pijarpsikologi.org/) [Yang Belum Usai](https://pijarpsikologi.org/yang-belum-usai) [Genesis](https://pijarpsikologi.org/genesis) [SEPI](https://pijarpsikologi.org/sepi) [Tentang Kami](https://pijarpsikologi.org/about) [Kontak](https://pijarpsikologi.org/contact) [Tes Kesehatan Mental](https://pijarpsikologi.org/tes-kesehatan-mental) # CURHAT: Move On dari Seseorang yang Tak Mudah Dilupakan [Cerita Mereka](https://pijarpsikologi.org/blog/category/Cerita+Mereka) Mar 10 Written By [Pijar Psikologi](https://pijarpsikologi.org/blog?author=601fe43d61fd1e17ace3ec80) ![](https://images.squarespace-cdn.com/content/v1/600bbfebf983552f0a54b390/1613639826027-26AIPRTBGLVT4HNJW474/image-asset.jpeg) #### **Curhat** Saya tidak bisa melupakan seseorang yang saya suka semenjak kita melakukan *travelling* bersama pada bulan September lalu. Saya sering menangis dan teringat momen perpisahan dengannya. Bahkan 2 minggu setelah berpisah saya masih merasakan kesedihan yang mendalam. Dia seorang Warga Negara Inggris. Saya memutuskan untuk tidak akan menemuinya lagi dikarenakan dia telah mempunyai pacar. Saya pun berpikir tidak akan bisa bersama dengan dia karena perbedaan agama dan *lifestyle*. Semenjak kejadian itu produktivitas saya di kantor menurun. Saya tidak bisa fokus bekerja. Tiap saat dan tiap bangun tidur saya pasti teringat akan dia terus walaupun saya berusaha melupakan dia. Saya sudah coba untuk tidak melihat media sosial dan tidak menghubungi dia, tapi tetap saja dia sering muncul dari pikiran saya. **Gambaran: Perempuan, 23 tahun, Pegawai Swasta** #### **Jawaban Pijar Psikologi** Terima kasih sebelumnya saya sampaikan atas kepercayaannya karena sudah bersedia untuk bercerita di Pijar Psikologi. Wah rasanya pasti tidak nyaman sekali ya? Berusaha keras melupakan seseorang yang pernah dekat dan memiliki kesan yang mendalam karena ada hal-hal yang dirasa sulit untuk dilalui seperti dia punya pacar, ditambah ada perbedaan agama dan gaya hidup. Rasanya pasti sedih, patah hati, mungkin juga ada perasaan marah pada keadaan. Namun, dari cerita ini juga, saya bisa bilang kamu itu orang yang hebat. Kamu tahu bahwa mungkin kamu memiliki perasaan yang lebih ke dia dan bisa saja bersama kalau nekat dan tidak berpikir panjang dengan segala konsekuensinya. Namun, kamu memilih untuk mencoba merelakan perasaan tersebut demi kebahagiaan diri kamu. Kamu tahu banyak tantangan yang akan dihadapi untuk memperjuangkan dirinya, dan mungkin belum tentu kamu sanggup. Meskipun usaha kamu saat ini belum sepenuhnya berhasil, tidak apa-apa. Setidaknya kamu sudah berani mengambil suatu keputusan. Patah hati dan proses *move on* memang bukan hal yang mudah. Ketika tidak bisa dilakukan dengan perasaan lapang dada, maka proses tersebut bisa membuat kita terluka bukan hanya psikologis, namun juga fisik. Hingga akhirnya bisa berpengaruh negatif pada aktivitas yang dilakukan seperti, hubungan dengan keluarga dan teman, atau pekerjaan kita terganggu seperti yang kamu alami saat ini. Perlu kamu pahami juga bahwa antara pikiran, perasaan, perilaku dan reaksi fisik itu saling mempengaruhi. Ketika pikiran dipaksa melupakan sesuatu, maka perasaan juga bisa ikut terpengaruh menjadi tidak stabil. Begitu pula pada fisik, yang mungkin jadi sulit konsentrasi, kurang bersemangat, malas-malasan, dll. Berusaha untuk bangkit dan move on memang baik, tapi pahami bahwa memaksa diri untuk melupakan hal-hal yang mungkin belum siap dilakukan itu tidak akan membuat diri lebih baik. *Move on* bukan berarti melupakan hal-hal yang membuat kita sedih karena hal ini hanya akan membuat diri semakin merasa terbebani dengan “kewajiban” untuk melupakan. Kadang, alih-alih melupakan, tetapi justru sesuatu yang ingin kita lupakan tersebut akan sering muncul. Semakin kita berusaha keras melupakan, maka semakin keras pula kita mengingatnya. Oleh karena itu, berhentilah memaksa diri kamu untuk melupakan. Yang perlu kamu lakukan saat ini adalah menerima segala perasaan yang tengah kamu rasakan. Terimalah segala perasaan bersalah, marah, dan kecewa yang saat ini sedang melingkupi diri kamu. Terimalah bahwa kamu adalah manusia yang dilahirkan untuk memiliki perasaan bermacam-macam, tidak sekadar bahagia dan cinta. Seringnya, memaafkan keadaan atau orang lain terasa jauh lebih mudah dibandingkan memaafkan diri sendiri. Padahal orang pertama yang akan hadir saat dunia terasa runtuh adalah diri kita sendiri. Sebelum berusaha untuk memaafkan keadaan atau orang lain, coba belajar dulu untuk memaafkan diri sendiri. Maafkanlah diri atas segala yang sudah terjadi. Maafkanlah diri atas keputusan di masa lalu. Maafkanlah diri yang belum dapat merelakan segala yang sudah terjadi. Ketika kita telah memaafkan diri sendiri, semua hal yang terasa menyakitkan akan perlahan-lahan memudar. Pahami juga bahwa *move on* adalah sebuah proses subjektif. Tiap orang memiliki waktu masing-masing untuk melepaskan dan *move on*. Selama kamu tahu bahwa kamu sedang berusaha untuk melangkah, percayalah bahwa semua pasti akan menjadi lebih baik. Setiap orang berhak memilih jalan hidupnya sendiri, begitupun dengan kamu. Kamu berhak memilih untuk merasa sedih atau bahagia. Kamu juga berhak memilih untuk tetap diam atau melakukan sesuatu. Kamu juga dapat memilih untuk meratapi masa lalu atau menatap masa depan. Kamu berhak untuk menjadi lebih baik di masa depan. Jangan memaksa untuk melupakan dan tetap nikmati proses ini sebagai bagian dari diri kamu untuk menjadi lebih baik. Terima kasih telah berbagi. Salam, Pijar Psikologi. [Curhat](https://pijarpsikologi.org/blog/tag/Curhat) [![]() Pijar Psikologi](https://pijarpsikologi.org/blog?author=601fe43d61fd1e17ace3ec80) Pijar Psikologi adalah media non-profit yang menyediakan informasi kesehatan mental di Indonesia. [Previous Previous Memahami Penyebab Kegagalan dari Cara Kita Memandangnya](https://pijarpsikologi.org/blog/memahami-penyebab-kegagalan-dari-cara-kita-memandangnya) [Next Next Cara Mudah Membentuk Kesan Pertama yang Baik](https://pijarpsikologi.org/blog/cara-mudah-membentuk-kesan-pertama-yang-baik) Pijar Psikologi adalah organisasi non-profit yang ingin mencerahkan pemahaman masyarakat Indonesia tentang kesehatan mental. Kami percaya bahwa perbuatan kecil mampu hadirkan perubahan besar. #### **\#UnderstandingHuman** [Artikel](https://pijarpsikologi.org/blog) [Cari Psikolog](https://pijarpsikologi.org/direktori-layanan) [Tentang Kami](https://pijarpsikologi.org/about) [Kontak](https://pijarpsikologi.org/contact)
Readable Markdown
#### **Curhat** Saya tidak bisa melupakan seseorang yang saya suka semenjak kita melakukan *travelling* bersama pada bulan September lalu. Saya sering menangis dan teringat momen perpisahan dengannya. Bahkan 2 minggu setelah berpisah saya masih merasakan kesedihan yang mendalam. Dia seorang Warga Negara Inggris. Saya memutuskan untuk tidak akan menemuinya lagi dikarenakan dia telah mempunyai pacar. Saya pun berpikir tidak akan bisa bersama dengan dia karena perbedaan agama dan *lifestyle*. Semenjak kejadian itu produktivitas saya di kantor menurun. Saya tidak bisa fokus bekerja. Tiap saat dan tiap bangun tidur saya pasti teringat akan dia terus walaupun saya berusaha melupakan dia. Saya sudah coba untuk tidak melihat media sosial dan tidak menghubungi dia, tapi tetap saja dia sering muncul dari pikiran saya. **Gambaran: Perempuan, 23 tahun, Pegawai Swasta** #### **Jawaban Pijar Psikologi** Terima kasih sebelumnya saya sampaikan atas kepercayaannya karena sudah bersedia untuk bercerita di Pijar Psikologi. Wah rasanya pasti tidak nyaman sekali ya? Berusaha keras melupakan seseorang yang pernah dekat dan memiliki kesan yang mendalam karena ada hal-hal yang dirasa sulit untuk dilalui seperti dia punya pacar, ditambah ada perbedaan agama dan gaya hidup. Rasanya pasti sedih, patah hati, mungkin juga ada perasaan marah pada keadaan. Namun, dari cerita ini juga, saya bisa bilang kamu itu orang yang hebat. Kamu tahu bahwa mungkin kamu memiliki perasaan yang lebih ke dia dan bisa saja bersama kalau nekat dan tidak berpikir panjang dengan segala konsekuensinya. Namun, kamu memilih untuk mencoba merelakan perasaan tersebut demi kebahagiaan diri kamu. Kamu tahu banyak tantangan yang akan dihadapi untuk memperjuangkan dirinya, dan mungkin belum tentu kamu sanggup. Meskipun usaha kamu saat ini belum sepenuhnya berhasil, tidak apa-apa. Setidaknya kamu sudah berani mengambil suatu keputusan. Patah hati dan proses *move on* memang bukan hal yang mudah. Ketika tidak bisa dilakukan dengan perasaan lapang dada, maka proses tersebut bisa membuat kita terluka bukan hanya psikologis, namun juga fisik. Hingga akhirnya bisa berpengaruh negatif pada aktivitas yang dilakukan seperti, hubungan dengan keluarga dan teman, atau pekerjaan kita terganggu seperti yang kamu alami saat ini. Perlu kamu pahami juga bahwa antara pikiran, perasaan, perilaku dan reaksi fisik itu saling mempengaruhi. Ketika pikiran dipaksa melupakan sesuatu, maka perasaan juga bisa ikut terpengaruh menjadi tidak stabil. Begitu pula pada fisik, yang mungkin jadi sulit konsentrasi, kurang bersemangat, malas-malasan, dll. Berusaha untuk bangkit dan move on memang baik, tapi pahami bahwa memaksa diri untuk melupakan hal-hal yang mungkin belum siap dilakukan itu tidak akan membuat diri lebih baik. *Move on* bukan berarti melupakan hal-hal yang membuat kita sedih karena hal ini hanya akan membuat diri semakin merasa terbebani dengan “kewajiban” untuk melupakan. Kadang, alih-alih melupakan, tetapi justru sesuatu yang ingin kita lupakan tersebut akan sering muncul. Semakin kita berusaha keras melupakan, maka semakin keras pula kita mengingatnya. Oleh karena itu, berhentilah memaksa diri kamu untuk melupakan. Yang perlu kamu lakukan saat ini adalah menerima segala perasaan yang tengah kamu rasakan. Terimalah segala perasaan bersalah, marah, dan kecewa yang saat ini sedang melingkupi diri kamu. Terimalah bahwa kamu adalah manusia yang dilahirkan untuk memiliki perasaan bermacam-macam, tidak sekadar bahagia dan cinta. Seringnya, memaafkan keadaan atau orang lain terasa jauh lebih mudah dibandingkan memaafkan diri sendiri. Padahal orang pertama yang akan hadir saat dunia terasa runtuh adalah diri kita sendiri. Sebelum berusaha untuk memaafkan keadaan atau orang lain, coba belajar dulu untuk memaafkan diri sendiri. Maafkanlah diri atas segala yang sudah terjadi. Maafkanlah diri atas keputusan di masa lalu. Maafkanlah diri yang belum dapat merelakan segala yang sudah terjadi. Ketika kita telah memaafkan diri sendiri, semua hal yang terasa menyakitkan akan perlahan-lahan memudar. Pahami juga bahwa *move on* adalah sebuah proses subjektif. Tiap orang memiliki waktu masing-masing untuk melepaskan dan *move on*. Selama kamu tahu bahwa kamu sedang berusaha untuk melangkah, percayalah bahwa semua pasti akan menjadi lebih baik. Setiap orang berhak memilih jalan hidupnya sendiri, begitupun dengan kamu. Kamu berhak memilih untuk merasa sedih atau bahagia. Kamu juga berhak memilih untuk tetap diam atau melakukan sesuatu. Kamu juga dapat memilih untuk meratapi masa lalu atau menatap masa depan. Kamu berhak untuk menjadi lebih baik di masa depan. Jangan memaksa untuk melupakan dan tetap nikmati proses ini sebagai bagian dari diri kamu untuk menjadi lebih baik. Terima kasih telah berbagi. Salam, Pijar Psikologi.
ML Classification
ML Categoriesnull
ML Page Typesnull
ML Intent Typesnull
Content Metadata
Languageen-us
AuthorPijar Psikologi
Publish Time2019-03-10 09:11:00 (7 years ago)
Original Publish Time2019-03-10 09:11:00 (7 years ago)
RepublishedNo
Word Count (Total)854
Word Count (Content)697
Links
External Links3
Internal Links17
Technical SEO
Meta NofollowNo
Meta NoarchiveNo
JS RenderedNo
Redirect Targetnull
Performance
Download Time (ms)219
TTFB (ms)181
Download Size (bytes)25,014
Shard146 (laksa)
Root Hash15241019814349043546
Unparsed URLorg,pijarpsikologi!/blog/curhat-move-on-dari-seseorang-yang-tak-mudah-dilupakan s443