🕷️ Crawler Inspector

URL Lookup

Direct Parameter Lookup

Raw Queries and Responses

1. Shard Calculation

Query:
Response:
Calculated Shard: 77 (from laksa088)

2. Crawled Status Check

Query:
Response:

3. Robots.txt Check

Query:
Response:

4. Spam/Ban Check

Query:
Response:

5. Seen Status Check

ℹ️ Skipped - page is already crawled

đź“„
INDEXABLE
âś…
CRAWLED
2 days ago
🤖
ROBOTS ALLOWED

Page Info Filters

FilterStatusConditionDetails
HTTP statusPASSdownload_http_code = 200HTTP 200
Age cutoffPASSdownload_stamp > now() - 6 MONTH0.1 months ago
History dropPASSisNull(history_drop_reason)No drop reason
Spam/banPASSfh_dont_index != 1 AND ml_spam_score = 0ml_spam_score=0
CanonicalPASSmeta_canonical IS NULL OR = '' OR = src_unparsedNot set

Page Details

PropertyValue
URLhttps://medium.com/@superherru/tentang-kenangan-melupakan-dan-menghapus-luka-a027c564f352
Last Crawled2026-04-12 08:14:25 (2 days ago)
First Indexednot set
HTTP Status Code200
Meta TitleTentang: Kenangan, Melupakan dan Menghapus Luka | by Herru Sanjaya | Medium
Meta DescriptionTentang: Kenangan, Melupakan dan Menghapus Luka Ada beberapa hal yang sebenarnya kita tahu kita mampu melakukannya tapi cenderung enggan melakukan. Melupakan, barangkali hal tersulit dalam …
Meta Canonicalnull
Boilerpipe Text
4 min read Mar 7, 2018 -- Ada beberapa hal yang sebenarnya kita tahu kita mampu melakukannya tapi cenderung enggan melakukan. Melupakan, barangkali hal tersulit dalam hidup ini, apalagi melupakan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari hidup kita. Kenangan salah satunya. “Kita bisa dengan mudah melupakan seseorang tapi sulit melupakan kenangan bersamanya.” Saat ini aku sedang dalam proses menyembuhkan luka. Bukan, bukan dia yang menyakitiku, tapi perasaan ini yang terlalu berlebihan kepadanya. Aku terlalu berharap lebih kepada dia, sehingga membuatku lalai, abai bahwa mengharap selain kepada-Nya hanya akan membuatku kecewa. “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.” — Imam Ali bin Abi Thalib. Aku memang tak pandai berkata jujur tentang perasaanku. Berkali-kali aku mencoba mengatakanya padamu, namun aku tak bisa. Kau pernah berkata padaku bahwa disampingku kau merasa sangat nyaman, tak pernah kau merasa senyaman itu, tidak juga dengan kekasihmu itu. Kau bilang andai kau mengenalku dari dahulu, andai kita dipertemukan lebih awal, mungkin kau bisa memilihku. “Kau tak usah menyalahkan takdir, jika kau berani, tinggalkan orang yang selalu menyakitimu — yang kau sebut kekasih itu, dan jalinlah hubungan dengan orang yang membuatmu nyaman — diriku.” Lalu kau terdiam, agak lama. “Semua sudah terlambat.” begitu katamu Seharusnya aku sadar, dan memang harus sadar bahwa sedekat apapun hubunganku dengan dia, sesering apapun dia mengucap rindu, merajuk ingin aku segera pulang dan memeluknya. Pada akhirnya aku hanyalah bagian yang akan tersisihkan dalam hidupnya. Dia, akan menikah dengan kekasihnya. Dan aku, seseorang yang menghiburnya saat ia sedih. Seseorang yang dadanya rela basah oleh air matanya saat ia menangis karena kekasihnya, seseorang yang rela menyisihkan waktuku hanya ingin melihatnya bahagia. Ya, tentu saja aku ingin sekali melihat dia bahagia, meski bukan denganku lagi. Sialan! Dalam proses penyembuhan luka ini, aku merasa waktu berjalan amat lambat, segalanya seperti melambat. Lalu, semua kenangan tentangmu muncul silih berganti. Bagaimana aku bisa melupakan dirimu, sementara setiap langkah di tempat ini penuh dengan kenangan dirimu — kenangan kita. Masih ingatkah kau dengan cerita-cerita kita di malam-malam yang dingin. Tentang masa depan “kamu” dan “aku”. Tentang kita. Aku dan kamu memiliki cita-cita dan keinginan yang sama. Meski pada akhirnya kita tak bisa bersama. Lalu, pada malam keberapa entah aku lupa, aku masih ingat jelas kejadian itu. Kau menatapku, aku tahu kau sedang bersedih, ingin memelukmu tapi tak berani, aku lihat di kedalaman bola matamu ada luka yang teramat dalam. Tiba-tiba saja kau merengkuh tubuhku, memelukku erat. Pundakmu bergetar, suara isak tangismu terdengar, hanya isak tangis tak ada yang lain. Aku biarkan kau berlama-lama dalam pelukan. Membasahi dadaku dengan air matamu. Aku berkata semua akan baik-baik saja, kau pasti kuat. Tapi sebenarnya bukan kalimat itu yang seharusnya aku ucapkan. Seharusnya aku berkata “Berhentilah mencintai luka dan mulailah memilih bahagia.” Tapi, aku tak pernah mengatakannya, mengatakan yang seharusnya. Aku benci diriku sendiri, aku benci dirimu yang terus mencintai luka. Aku benci keadaan seperti ini, tapi aku lebih benci karena kamu lebih memilih orang yang membuatmu terus terluka daripada orang yang selalu membuatmu nyaman. Bukankah kau ingin bahagia?Sekali lagi, kau hanya ingin bahagia bukan? Lalu kenapa kau memilih badai sedangkan pelangi jelas ada di depan matamu. Ah, aku lupa. Seindah apapun pelangi, tak akan bisa kau menggapainya. Berhari-hari aku dihinggapi rasa malas. Malas akut. Aku membeli banyak buku tapi tak satupun aku membacanya. Aku biarkan tergeletak di rak buku, di ranjang, di meja kantor. Terbengkalai, sebagaimana hatiku terbengkalai oleh dirimu. Aku membiarkan diriku hibernasi di ranjang, tempat kesedihan dan kebahagian bersatu. Tempat dimana aku menemukan dirimu tersungkur, menangis karenanya. Tempat di mana aku mengumpulkan puing hatimu yang berserakan luluh lantah karenanya. Waktu itu, tak ada purnama, bintang tak terlihat. Barangkali di luar mendung sebagaimana hatimu sedang mendung. Aku kembali menyusun pecahan hatimu yang tak karuan, memperbaikinya dengan senyuman, menyusun satu demi satu bagian yang patah, pecah dan rusak. Aku memang tak mampu menjadikan hatimu kembali bagus seperti semula, tapi setidaknya aku menjaga (sampai sekarangpun masih menjaga) agar hatimu tak patah olehku. Setidaknya begitu. Dinihari Jakarta, sebelum 11 Maret Press enter or click to view image in full size Seorang teman mengirimiku ebook "Garis Waktu" karya Fiersa Besari. "Kau bacalah ini, pasti kau akan suka, isinya seperti kisah cintamu." katanya "Gimana kau tahu kisah cintaku, sementara aku kan gak pernah cerita soal asmaraku padamu?" "Udah baca aja, kau pasti akan baper dan aku yakin kau bisa menyelesaikanya dalam sehari." Sebetulnya buku ini sudah saya rekomendasikan kepadanya sejak dia ingin meminjam buku kepadaku. Waktu itu, temanku ini sedang berusaha menghapus luka dan melupakan seseorang. Tapi, waktu itu aku belum punya buku ini. Akhirnya aku pinjami judul buku yang lain. Entah kenapa, aku merasa apa yang dikatakan temanku ini benar. Aku mulai membaca bab demi bab buku ini. Semua yang sedang aku alami sekarang seperti terangkum dalam buku Garis Waktu. Benar saja, aku tak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan ebook Garis Waktu. Tidak sampai empat jam. Setelah itu, aku bergegas menuju toko buku terdekat. Membeli buku ini. Buat apa? Toh aku sudah menyelesaikan membaca buku ini? Aku tak tahu, tapi aku merasa aku harus memiliki buku ini dalam bentuk buku bukan ebook. Terima kasih kepada teman saya @riprautami_ yang mengirimi ebook Garis Waktu dan sekarang masih menjomlo, semoga lekas menikah. Terimakasih kepada Fiersa Besari untuk buku Garis Waktunya. Maaf baru sempat beli dan baca. Kemarin-kemarin aku sedang malas. You knowlah, seperti yang sudah aku ceritakan di bagian atas tadi. Dan terima kasih kepada kamu yang akan membeli luka pada tanggal 11 nanti, doakan aku semoga aku bisa menyelesaikan dan menerbitkan buku ini nantinya. Jakarta, menjelang sebelas maret.
Markdown
[Sitemap](https://medium.com/sitemap/sitemap.xml) [Open in app](https://play.google.com/store/apps/details?id=com.medium.reader&referrer=utm_source%3DmobileNavBar&source=post_page---top_nav_layout_nav-----------------------------------------) Sign up [Sign in](https://medium.com/m/signin?operation=login&redirect=https%3A%2F%2Fmedium.com%2F%40superherru%2Ftentang-kenangan-melupakan-dan-menghapus-luka-a027c564f352&source=post_page---top_nav_layout_nav-----------------------global_nav------------------) [Medium Logo](https://medium.com/?source=post_page---top_nav_layout_nav-----------------------------------------) Get app [Write](https://medium.com/m/signin?operation=register&redirect=https%3A%2F%2Fmedium.com%2Fnew-story&source=---top_nav_layout_nav-----------------------new_post_topnav------------------) [Search](https://medium.com/search?source=post_page---top_nav_layout_nav-----------------------------------------) Sign up [Sign in](https://medium.com/m/signin?operation=login&redirect=https%3A%2F%2Fmedium.com%2F%40superherru%2Ftentang-kenangan-melupakan-dan-menghapus-luka-a027c564f352&source=post_page---top_nav_layout_nav-----------------------global_nav------------------) ![](https://miro.medium.com/v2/resize:fill:64:64/1*dmbNkD5D-u45r44go_cf0g.png) # Tentang: Kenangan, Melupakan dan Menghapus Luka [![Herru Sanjaya](https://miro.medium.com/v2/resize:fill:64:64/0*h4iXfDDVRVhByMoA.)](https://medium.com/@superherru?source=post_page---byline--a027c564f352---------------------------------------) [Herru Sanjaya](https://medium.com/@superherru?source=post_page---byline--a027c564f352---------------------------------------) 4 min read · Mar 7, 2018 \-- Share Ada beberapa hal yang sebenarnya kita tahu kita mampu melakukannya tapi cenderung enggan melakukan. Melupakan, barangkali hal tersulit dalam hidup ini, apalagi melupakan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari hidup kita. Kenangan salah satunya. “Kita bisa dengan mudah melupakan seseorang tapi sulit melupakan kenangan bersamanya.” Saat ini aku sedang dalam proses menyembuhkan luka. Bukan, bukan dia yang menyakitiku, tapi perasaan ini yang terlalu berlebihan kepadanya. Aku terlalu berharap lebih kepada dia, sehingga membuatku lalai, abai bahwa mengharap selain kepada-Nya hanya akan membuatku kecewa. > “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.” — Imam Ali bin Abi Thalib. Aku memang tak pandai berkata jujur tentang perasaanku. Berkali-kali aku mencoba mengatakanya padamu, namun aku tak bisa. Kau pernah berkata padaku bahwa disampingku kau merasa sangat nyaman, tak pernah kau merasa senyaman itu, tidak juga dengan kekasihmu itu. Kau bilang andai kau mengenalku dari dahulu, andai kita dipertemukan lebih awal, mungkin kau bisa memilihku. “Kau tak usah menyalahkan takdir, jika kau berani, tinggalkan orang yang selalu menyakitimu — yang kau sebut kekasih itu, dan jalinlah hubungan dengan orang yang membuatmu nyaman — diriku.” Lalu kau terdiam, agak lama. “Semua sudah terlambat.” begitu katamu Seharusnya aku sadar, dan memang harus sadar bahwa sedekat apapun hubunganku dengan dia, sesering apapun dia mengucap rindu, merajuk ingin aku segera pulang dan memeluknya. Pada akhirnya aku hanyalah bagian yang akan tersisihkan dalam hidupnya. Dia, akan menikah dengan kekasihnya. Dan aku, seseorang yang menghiburnya saat ia sedih. Seseorang yang dadanya rela basah oleh air matanya saat ia menangis karena kekasihnya, seseorang yang rela menyisihkan waktuku hanya ingin melihatnya bahagia. Ya, tentu saja aku ingin sekali melihat dia bahagia, meski bukan denganku lagi. Sialan\! Dalam proses penyembuhan luka ini, aku merasa waktu berjalan amat lambat, segalanya seperti melambat. Lalu, semua kenangan tentangmu muncul silih berganti. Bagaimana aku bisa melupakan dirimu, sementara setiap langkah di tempat ini penuh dengan kenangan dirimu — kenangan kita. Masih ingatkah kau dengan cerita-cerita kita di malam-malam yang dingin. Tentang masa depan “kamu” dan “aku”. Tentang kita. Aku dan kamu memiliki cita-cita dan keinginan yang sama. Meski pada akhirnya kita tak bisa bersama. Lalu, pada malam keberapa entah aku lupa, aku masih ingat jelas kejadian itu. Kau menatapku, aku tahu kau sedang bersedih, ingin memelukmu tapi tak berani, aku lihat di kedalaman bola matamu ada luka yang teramat dalam. Tiba-tiba saja kau merengkuh tubuhku, memelukku erat. Pundakmu bergetar, suara isak tangismu terdengar, hanya isak tangis tak ada yang lain. Aku biarkan kau berlama-lama dalam pelukan. Membasahi dadaku dengan air matamu. Aku berkata semua akan baik-baik saja, kau pasti kuat. Tapi sebenarnya bukan kalimat itu yang seharusnya aku ucapkan. Seharusnya aku berkata “Berhentilah mencintai luka dan mulailah memilih bahagia.” Tapi, aku tak pernah mengatakannya, mengatakan yang seharusnya. Aku benci diriku sendiri, aku benci dirimu yang terus mencintai luka. Aku benci keadaan seperti ini, tapi aku lebih benci karena kamu lebih memilih orang yang membuatmu terus terluka daripada orang yang selalu membuatmu nyaman. Bukankah kau ingin bahagia?Sekali lagi, kau hanya ingin bahagia bukan? Lalu kenapa kau memilih badai sedangkan pelangi jelas ada di depan matamu. Ah, aku lupa. Seindah apapun pelangi, tak akan bisa kau menggapainya. Berhari-hari aku dihinggapi rasa malas. Malas akut. Aku membeli banyak buku tapi tak satupun aku membacanya. Aku biarkan tergeletak di rak buku, di ranjang, di meja kantor. Terbengkalai, sebagaimana hatiku terbengkalai oleh dirimu. Aku membiarkan diriku hibernasi di ranjang, tempat kesedihan dan kebahagian bersatu. Tempat dimana aku menemukan dirimu tersungkur, menangis karenanya. Tempat di mana aku mengumpulkan puing hatimu yang berserakan luluh lantah karenanya. Waktu itu, tak ada purnama, bintang tak terlihat. Barangkali di luar mendung sebagaimana hatimu sedang mendung. Aku kembali menyusun pecahan hatimu yang tak karuan, memperbaikinya dengan senyuman, menyusun satu demi satu bagian yang patah, pecah dan rusak. Aku memang tak mampu menjadikan hatimu kembali bagus seperti semula, tapi setidaknya aku menjaga (sampai sekarangpun masih menjaga) agar hatimu tak patah olehku. Setidaknya begitu. Dinihari Jakarta, sebelum 11 Maret Press enter or click to view image in full size ![]() Seorang teman mengirimiku ebook "Garis Waktu" karya Fiersa Besari. "Kau bacalah ini, pasti kau akan suka, isinya seperti kisah cintamu." katanya "Gimana kau tahu kisah cintaku, sementara aku kan gak pernah cerita soal asmaraku padamu?" "Udah baca aja, kau pasti akan baper dan aku yakin kau bisa menyelesaikanya dalam sehari." Sebetulnya buku ini sudah saya rekomendasikan kepadanya sejak dia ingin meminjam buku kepadaku. Waktu itu, temanku ini sedang berusaha menghapus luka dan melupakan seseorang. Tapi, waktu itu aku belum punya buku ini. Akhirnya aku pinjami judul buku yang lain. Entah kenapa, aku merasa apa yang dikatakan temanku ini benar. Aku mulai membaca bab demi bab buku ini. Semua yang sedang aku alami sekarang seperti terangkum dalam buku Garis Waktu. Benar saja, aku tak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan ebook Garis Waktu. Tidak sampai empat jam. Setelah itu, aku bergegas menuju toko buku terdekat. Membeli buku ini. Buat apa? Toh aku sudah menyelesaikan membaca buku ini? Aku tak tahu, tapi aku merasa aku harus memiliki buku ini dalam bentuk buku bukan ebook. Terima kasih kepada teman saya [@riprautami\_](https://www.instagram.com/riprautami_/) yang mengirimi ebook Garis Waktu dan sekarang masih menjomlo, semoga lekas menikah. Terimakasih kepada Fiersa Besari untuk buku Garis Waktunya. Maaf baru sempat beli dan baca. Kemarin-kemarin aku sedang malas. You knowlah, seperti yang sudah aku ceritakan di bagian atas tadi. Dan terima kasih kepada kamu yang akan membeli luka pada tanggal 11 nanti, doakan aku semoga aku bisa menyelesaikan dan menerbitkan buku ini nantinya. Jakarta, menjelang sebelas maret. [Garis Waktu](https://medium.com/tag/garis-waktu?source=post_page-----a027c564f352---------------------------------------) [Fiersa Besari](https://medium.com/tag/fiersa-besari?source=post_page-----a027c564f352---------------------------------------) [Kenangan](https://medium.com/tag/kenangan?source=post_page-----a027c564f352---------------------------------------) \-- \-- [![Herru Sanjaya](https://miro.medium.com/v2/resize:fill:96:96/0*h4iXfDDVRVhByMoA.)](https://medium.com/@superherru?source=post_page---post_author_info--a027c564f352---------------------------------------) [![Herru Sanjaya](https://miro.medium.com/v2/resize:fill:128:128/0*h4iXfDDVRVhByMoA.)](https://medium.com/@superherru?source=post_page---post_author_info--a027c564f352---------------------------------------) [Written by Herru Sanjaya](https://medium.com/@superherru?source=post_page---post_author_info--a027c564f352---------------------------------------) [182 followers](https://medium.com/@superherru/followers?source=post_page---post_author_info--a027c564f352---------------------------------------) ·[26 following](https://medium.com/@superherru/following?source=post_page---post_author_info--a027c564f352---------------------------------------) ## No responses yet [Help](https://help.medium.com/hc/en-us?source=post_page-----a027c564f352---------------------------------------) [Status](https://status.medium.com/?source=post_page-----a027c564f352---------------------------------------) [About](https://medium.com/about?autoplay=1&source=post_page-----a027c564f352---------------------------------------) [Careers](https://medium.com/jobs-at-medium/work-at-medium-959d1a85284e?source=post_page-----a027c564f352---------------------------------------) [Press](mailto:pressinquiries@medium.com) [Blog](https://blog.medium.com/?source=post_page-----a027c564f352---------------------------------------) [Privacy](https://policy.medium.com/medium-privacy-policy-f03bf92035c9?source=post_page-----a027c564f352---------------------------------------) [Rules](https://policy.medium.com/medium-rules-30e5502c4eb4?source=post_page-----a027c564f352---------------------------------------) [Terms](https://policy.medium.com/medium-terms-of-service-9db0094a1e0f?source=post_page-----a027c564f352---------------------------------------) [Text to speech](https://speechify.com/medium?source=post_page-----a027c564f352---------------------------------------)
Readable Markdown
[![Herru Sanjaya](https://miro.medium.com/v2/resize:fill:64:64/0*h4iXfDDVRVhByMoA.)](https://medium.com/@superherru?source=post_page---byline--a027c564f352---------------------------------------) 4 min read Mar 7, 2018 \-- Ada beberapa hal yang sebenarnya kita tahu kita mampu melakukannya tapi cenderung enggan melakukan. Melupakan, barangkali hal tersulit dalam hidup ini, apalagi melupakan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari hidup kita. Kenangan salah satunya. “Kita bisa dengan mudah melupakan seseorang tapi sulit melupakan kenangan bersamanya.” Saat ini aku sedang dalam proses menyembuhkan luka. Bukan, bukan dia yang menyakitiku, tapi perasaan ini yang terlalu berlebihan kepadanya. Aku terlalu berharap lebih kepada dia, sehingga membuatku lalai, abai bahwa mengharap selain kepada-Nya hanya akan membuatku kecewa. > “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.” — Imam Ali bin Abi Thalib. Aku memang tak pandai berkata jujur tentang perasaanku. Berkali-kali aku mencoba mengatakanya padamu, namun aku tak bisa. Kau pernah berkata padaku bahwa disampingku kau merasa sangat nyaman, tak pernah kau merasa senyaman itu, tidak juga dengan kekasihmu itu. Kau bilang andai kau mengenalku dari dahulu, andai kita dipertemukan lebih awal, mungkin kau bisa memilihku. “Kau tak usah menyalahkan takdir, jika kau berani, tinggalkan orang yang selalu menyakitimu — yang kau sebut kekasih itu, dan jalinlah hubungan dengan orang yang membuatmu nyaman — diriku.” Lalu kau terdiam, agak lama. “Semua sudah terlambat.” begitu katamu Seharusnya aku sadar, dan memang harus sadar bahwa sedekat apapun hubunganku dengan dia, sesering apapun dia mengucap rindu, merajuk ingin aku segera pulang dan memeluknya. Pada akhirnya aku hanyalah bagian yang akan tersisihkan dalam hidupnya. Dia, akan menikah dengan kekasihnya. Dan aku, seseorang yang menghiburnya saat ia sedih. Seseorang yang dadanya rela basah oleh air matanya saat ia menangis karena kekasihnya, seseorang yang rela menyisihkan waktuku hanya ingin melihatnya bahagia. Ya, tentu saja aku ingin sekali melihat dia bahagia, meski bukan denganku lagi. Sialan\! Dalam proses penyembuhan luka ini, aku merasa waktu berjalan amat lambat, segalanya seperti melambat. Lalu, semua kenangan tentangmu muncul silih berganti. Bagaimana aku bisa melupakan dirimu, sementara setiap langkah di tempat ini penuh dengan kenangan dirimu — kenangan kita. Masih ingatkah kau dengan cerita-cerita kita di malam-malam yang dingin. Tentang masa depan “kamu” dan “aku”. Tentang kita. Aku dan kamu memiliki cita-cita dan keinginan yang sama. Meski pada akhirnya kita tak bisa bersama. Lalu, pada malam keberapa entah aku lupa, aku masih ingat jelas kejadian itu. Kau menatapku, aku tahu kau sedang bersedih, ingin memelukmu tapi tak berani, aku lihat di kedalaman bola matamu ada luka yang teramat dalam. Tiba-tiba saja kau merengkuh tubuhku, memelukku erat. Pundakmu bergetar, suara isak tangismu terdengar, hanya isak tangis tak ada yang lain. Aku biarkan kau berlama-lama dalam pelukan. Membasahi dadaku dengan air matamu. Aku berkata semua akan baik-baik saja, kau pasti kuat. Tapi sebenarnya bukan kalimat itu yang seharusnya aku ucapkan. Seharusnya aku berkata “Berhentilah mencintai luka dan mulailah memilih bahagia.” Tapi, aku tak pernah mengatakannya, mengatakan yang seharusnya. Aku benci diriku sendiri, aku benci dirimu yang terus mencintai luka. Aku benci keadaan seperti ini, tapi aku lebih benci karena kamu lebih memilih orang yang membuatmu terus terluka daripada orang yang selalu membuatmu nyaman. Bukankah kau ingin bahagia?Sekali lagi, kau hanya ingin bahagia bukan? Lalu kenapa kau memilih badai sedangkan pelangi jelas ada di depan matamu. Ah, aku lupa. Seindah apapun pelangi, tak akan bisa kau menggapainya. Berhari-hari aku dihinggapi rasa malas. Malas akut. Aku membeli banyak buku tapi tak satupun aku membacanya. Aku biarkan tergeletak di rak buku, di ranjang, di meja kantor. Terbengkalai, sebagaimana hatiku terbengkalai oleh dirimu. Aku membiarkan diriku hibernasi di ranjang, tempat kesedihan dan kebahagian bersatu. Tempat dimana aku menemukan dirimu tersungkur, menangis karenanya. Tempat di mana aku mengumpulkan puing hatimu yang berserakan luluh lantah karenanya. Waktu itu, tak ada purnama, bintang tak terlihat. Barangkali di luar mendung sebagaimana hatimu sedang mendung. Aku kembali menyusun pecahan hatimu yang tak karuan, memperbaikinya dengan senyuman, menyusun satu demi satu bagian yang patah, pecah dan rusak. Aku memang tak mampu menjadikan hatimu kembali bagus seperti semula, tapi setidaknya aku menjaga (sampai sekarangpun masih menjaga) agar hatimu tak patah olehku. Setidaknya begitu. Dinihari Jakarta, sebelum 11 Maret Press enter or click to view image in full size Seorang teman mengirimiku ebook "Garis Waktu" karya Fiersa Besari. "Kau bacalah ini, pasti kau akan suka, isinya seperti kisah cintamu." katanya "Gimana kau tahu kisah cintaku, sementara aku kan gak pernah cerita soal asmaraku padamu?" "Udah baca aja, kau pasti akan baper dan aku yakin kau bisa menyelesaikanya dalam sehari." Sebetulnya buku ini sudah saya rekomendasikan kepadanya sejak dia ingin meminjam buku kepadaku. Waktu itu, temanku ini sedang berusaha menghapus luka dan melupakan seseorang. Tapi, waktu itu aku belum punya buku ini. Akhirnya aku pinjami judul buku yang lain. Entah kenapa, aku merasa apa yang dikatakan temanku ini benar. Aku mulai membaca bab demi bab buku ini. Semua yang sedang aku alami sekarang seperti terangkum dalam buku Garis Waktu. Benar saja, aku tak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan ebook Garis Waktu. Tidak sampai empat jam. Setelah itu, aku bergegas menuju toko buku terdekat. Membeli buku ini. Buat apa? Toh aku sudah menyelesaikan membaca buku ini? Aku tak tahu, tapi aku merasa aku harus memiliki buku ini dalam bentuk buku bukan ebook. Terima kasih kepada teman saya [@riprautami\_](https://www.instagram.com/riprautami_/) yang mengirimi ebook Garis Waktu dan sekarang masih menjomlo, semoga lekas menikah. Terimakasih kepada Fiersa Besari untuk buku Garis Waktunya. Maaf baru sempat beli dan baca. Kemarin-kemarin aku sedang malas. You knowlah, seperti yang sudah aku ceritakan di bagian atas tadi. Dan terima kasih kepada kamu yang akan membeli luka pada tanggal 11 nanti, doakan aku semoga aku bisa menyelesaikan dan menerbitkan buku ini nantinya. Jakarta, menjelang sebelas maret.
Shard77 (laksa)
Root Hash13179037029838926277
Unparsed URLcom,medium!/@superherru/tentang-kenangan-melupakan-dan-menghapus-luka-a027c564f352 s443