âšď¸ Skipped - page is already crawled
| Filter | Status | Condition | Details |
|---|---|---|---|
| HTTP status | PASS | download_http_code = 200 | HTTP 200 |
| Age cutoff | PASS | download_stamp > now() - 6 MONTH | 0.1 months ago |
| History drop | PASS | isNull(history_drop_reason) | No drop reason |
| Spam/ban | PASS | fh_dont_index != 1 AND ml_spam_score = 0 | ml_spam_score=0 |
| Canonical | PASS | meta_canonical IS NULL OR = '' OR = src_unparsed | Not set |
| Property | Value |
|---|---|
| URL | https://magdalene.co/story/anak-sma-demo-2025/ |
| Last Crawled | 2026-04-12 14:23:56 (4 days ago) |
| First Indexed | 2025-09-11 05:01:12 (7 months ago) |
| HTTP Status Code | 200 |
| Meta Title | Larangan Anak SMA Ikut di Demo 2025 |
| Meta Description | Pelajar SMA berbagi perspektif tentang partisipasi dalam demo 2025, tantangan perempuan di kerumunan massa, dan pentingnya ruang aman bagi... |
| Meta Canonical | null |
| Boilerpipe Text | Sebagai pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA), saya sering mendengar orang-orang yang âlebih dewasaâ mengatakan generasi muda adalah harapan bangsa. Karena itu, kami harus belajar dengan rajin. Namun banyak teman seusia saya justru berpendapat pelajaran di sekolah tidak akan berguna di kemudian hari. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: Seperti apa belajar itu seharusnya?Â
Di saat bersamaan, belakangan ini, demonstrasi menjadi kabar yang marak. Sekolah saya memberi instruksi agar
pelajar tidak ikut berdemo
dengan alasan keamanan dan ârentannya seorang remajaâ. Mereka bilang, masa SMA bukanlah saatnya, dan suatu hari nanti kami akan belajar sendiri tentang demonstrasi di bangku perkuliahan.Â
Pernyataan itu menimbulkan pertanyaan besar: Jika pelajar dianggap
kelompok rentan
, bukankah seharusnya kami juga berhak mendapatkan edukasi tentang demonstrasi demi keamanan kami sendiri? Larangan seperti ini justru membuka celah bagi pelajar untuk melakukan demonstrasi secara âilegalâ.Â
Kalau substansi demonstrasi pelajar adalah menuntut hak, saya mendukung. Namun ketika lapangan berubah menjadi ruang penuh bahaya, ikut turun ke jalan menjadi risiko yang tidak perlu diambil. Meski begitu, saya tidak setuju jika orang dewasa meredam suara kami dengan dogmaâseakan kami hanya harus fokus belajar dan mengabaikan panggilan hati. Keresahan pelajar nyata adanya. Masalah ini menunjukkan kegagalan negara dan masyarakat dalam menyediakan ruang aman untuk menyampaikan aspirasi.Â
Banyak pelajar merasa pelajaran sekolah tidak berguna, kecuali hanya untuk dihapal demi mendapatkan nilai bagus. Pendidikan Kewarganegaraan, misalnya, sering hanya berupa jawaban soal âpenerapan nilai-nilai Pancasilaâ atau âundang-undang dasarâ. Kami tidak diajarkan bagaimana memahami makna hak dan kewajiban secara kritis. Bahkan, berani mengkritisi aturan yang tidak relevan sering kali membuat kami dicap pembangkang.Â
Label âbelum cukup dewasaâ lebih terasa sebagai diskriminasi daripada perlindungan. Rasanya, jika kami turun ke jalan atau sekadar menyampaikan aspirasi, kami akan langsung dipersepsikan sebagai kriminal dan masa depan dianggap tidak pasti. Padahal, jika alasannya ruang tidak aman, seharusnya kita bersama-sama memikirkan cara menciptakan ruang aman, bukan menuduh pelajar sebagai biang kerok. Bukankah biang kerok sebenarnya adalah penyebab keresahan masyarakat?Â
Baca Juga:
Kejarlah Demonstran Pelajar, Kutangkap Polisi
Ruang Aman dan Aspirasi RemajaÂ
Meski banyak dari kami belum memiliki
hak pilih
, kami tetap bagian dari masyarakat. Wajar jika kami juga merasakan keresahan yang sama. Pendidikan yang dijalani seharusnya menjadi sarana untuk memahami hak dan kewajiban, bukan hanya rutinitas menghapal.Â
Jika materi yang diajarkan terasa tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari, apakah wajar jika pelajar memilih menyuarakan ketidakpuasan? Tidak bolehkah pelajar menuntut hak untuk mendapatkan pendidikan yang lebih bermakna dan dapat diaplikasikan? Tidak bolehkah pelajar menuntut hak untuk menyampaikan aspirasi secara aman tanpa harus takut dianggap melanggar norma atau hukum?Â
Sebagai perempuan remaja, risiko yang saya hadapi bahkan lebih besar. Berada di kerumunan massa, meskipun sekadar ikut berdemo atau menyuarakan pendapat, dapat menimbulkan kekhawatiran akan
pelecehan seksual
atau kekerasan dari aparat yang seharusnya melindungi masyarakat. Rasa takut ini bukan sekadar imajinasi. Pengalaman nyata di lapangan menunjukkan bahwa perempuan muda sering menjadi target
pelecehan verbal
maupun fisik.Â
Jika bungkam dianggap solusi, masalah tidak akan pernah selesai. Sebaliknya, membungkam aspirasi hanya menimbulkan penumpukan ketidakpuasan dan perasaan tidak berdaya. Kita hanya akan menjadi bangsa yang dipenuhi orang-orang saling membenci, tetapi tidak pernah berani menyebut penyebabnya secara terbuka.Â
Ruang aman untuk menyampaikan pendapat bagi remaja dan perempuan masih sangat terbatas. Di sekolah, diskusi yang seharusnya menjadi tempat untuk belajar berpikir kritis, sering kali berubah menjadi ruang penuh penilaian dan penghakiman. Banyak pelajar merasa suaranya kurang dihargai, bahkan kadang diabaikan karena dianggap terlalu muda atau terlalu emosional. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa tidak ada korelasi antara kemampuan berlogika dan
jenis kelamin
.Â
Dengan kata lain, penilaian terhadap pendapat seseorang seharusnya didasarkan pada isi dan kualitas argumen, bukan identitas atau usia pengemukanya. Mengabaikan aspirasi hanya karena siapa yang berbicara adalah
cacat logika
: Argumen harus dinilai dari substansinya, bukan subjeknya.Â
Selain itu, ketidaktersediaan ruang aman membuat banyak pelajar, terutama perempuan, menahan diri dari menyuarakan pendapat. Hal ini berdampak pada pembelajaran sosial: Kami kehilangan kesempatan untuk belajar mengekspresikan diri, berdialog, dan bernegosiasi secara sehat. Diskusi yang inklusif dan aman bukan hanya memperkaya wacana, tetapi juga menumbuhkan keberanian, empati, dan kesadaran kritis.Â
Ruang aman memungkinkan remaja berkembang menjadi individu yang percaya diri, mampu berpikir kritis, dan siap mengambil peran dalam proses sosial dan politik di masa depan.Â
Artinya membangun ruang aman bukan sekadar memberi
kebebasan berbicara
, tetapi juga memberikan pendidikan praktis tentang bagaimana menyampaikan aspirasi secara efektif, mendengarkan perspektif lain, dan menghadapi perbedaan pendapat tanpa kekerasan. Ruang seperti ini menjadi fondasi penting bagi pelajar untuk tumbuh sebagai warga negara yang aktif, sadar akan hak-haknya, dan mampu berpartisipasi dalam demokrasi secara bertanggung jawab.Â
Baca Juga:
Demonstrasi, Kecemasan Orang Tua, dan Pelajaran untuk Melepaskan
Diam Bukan Berarti Enggak Ada SuaraÂ
Di balik kerentanan, ada keberanian yang tumbuh. Kami belajar menyampaikan keresahan meski risiko dianggap vokal, keras, atau tidak sopan selalu mengintai. Label-label itu membatasi, membuat banyak pelajar, terutama perempuan, memilih diam agar diterima.Â
Diamnya pelajar tidak berarti tidak punya gagasan. Justru di balik diam itu ada ide segar, kritik tajam, dan keinginan untuk ikut menentukan arah perubahan. Namun tanpa
ruang inklusif
, semua itu hanya berputar di kepala, tidak pernah sampai ke publik.Â
Budaya diskusi yang setara sangat penting. Diskusi tidak hanya soal siapa paling pintar berargumen, tetapi bagaimana semua suara bisa hadir tanpa takut diremehkan. Bagi pelajar, perempuan, minoritas, dan kelompok rentan, ruang aman adalah jalan menuju keberdayaan. Ini memungkinkan kami tumbuh menjadi individu percaya diri, mampu memimpin, dan berani menuntut hak. Masa depan bangsa dipertaruhkan melalui generasi ini.Â
Baca Juga:
3 Pelajaran dari Aksi Kamisan dalam Membangun Gerakan Sosial
Sudah saatnya berhenti melihat pelajar sebagai pengikut yang baik. Kami ingin berbicara, menantang, dan mendefinisikan ulang masa depan. Memberi ruang aman bukan kebaikan hati, tetapi kewajiban sosialâlangkah kecil menuju masyarakat lebih adil dan setara.Â
Freya Kalyca Handayono menulis tentang isu sosial dan struktural dengan pendekatan kritis dan reflektif. Aktif mengembangkan gagasan melalui esai dan opini publik.
 |
| Markdown | 12/04/2026
[](https://magdalene.co/)
- [Home](https://magdalene.co/)
- [Issues](https://magdalene.co/category/issues/)
- [History](https://magdalene.co/category/issues/history/)
- [Election 2024](https://magdalene.co/category/issues/election-2024/)
- [Environment](https://magdalene.co/category/issues/environment/)
- [Politics & Society](https://magdalene.co/category/issues/politics-and-society/)
- [Gender & Sexuality](https://magdalene.co/category/issues/gender-and-sexuality/)
- [Relationship](https://magdalene.co/category/issues/relationship/)
- [Technology](https://magdalene.co/category/issues/technology/)
- [Feminism A to Z](https://magdalene.co/category/issues/feminism-a-to-z/)
- [Safe Space](https://magdalene.co/category/safe-space/)
- [Lifestyle](https://magdalene.co/category/lifestyle/)
- [Health](https://magdalene.co/category/lifestyle/health/)
- [Beauty](https://magdalene.co/category/lifestyle/beauty/)
- [Horoscope](https://magdalene.co/category/lifestyle/horoscope/)
- [Travel & Leisure](https://magdalene.co/category/lifestyle/travel-and-leisure/)
- [Madge PCR](https://magdalene.co/category/lifestyle/madge-pcr/)
- [Culture](https://magdalene.co/category/culture/)
- [Screen Raves](https://magdalene.co/category/culture/screen-raves/)
- [Graphic Series](https://magdalene.co/category/culture/graphic-series/)
- [Prose & Poem](https://magdalene.co/category/culture/prose-and-poem/)
- [Korean Wave](https://magdalene.co/category/culture/korean-wave/)
- [Boysâ Love](https://magdalene.co/category/culture/boys-love/)
- [People We Love](https://magdalene.co/category/people-we-love/)
- [Multimedia](https://magdalene.co/category/multimedia/)
- [Data Journalism](https://magdalene.co/DataJournalism)
- [Podcast](https://magdalene.co/category/multimedia/podcast/)
- [Infographic](https://magdalene.co/category/multimedia/infographic/)
- [Quiz](https://magdalene.co/category/multimedia/quiz/)
- [Community](https://magdalene.co/category/community/)
- [Magdalene Merch](https://magdalene.co/merch/)
- [Brand News](https://magdalene.co/category/community/brand-news/)
- [Community Update](https://magdalene.co/category/community/community-update/)
- [Instatree](https://magdalene.co/category/community/instatree/)
- [Events](https://magdalene.co/category/community/events/)
- [English](https://magdalene.co/category/english/)
[Issues](https://magdalene.co/category/issues/) [Opini](https://magdalene.co/category/opini/) [Politics & Society](https://magdalene.co/category/issues/politics-and-society/)
# Dear Pemerintah, Kami Remaja SMA juga Berhak Bersuara di Demo
Menurut pelajar SMA ini, larangan sekolah agar siswa tak ikut demonstrasi dan fokus belajar adalah wujud pembungkaman sipil.

#### Freya Kalyca Handayono
- September 11, 2025
- 5 min read
- 4135 Views

Sebagai pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA), saya sering mendengar orang-orang yang âlebih dewasaâ mengatakan generasi muda adalah harapan bangsa. Karena itu, kami harus belajar dengan rajin. Namun banyak teman seusia saya justru berpendapat pelajaran di sekolah tidak akan berguna di kemudian hari. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: Seperti apa belajar itu seharusnya?
Di saat bersamaan, belakangan ini, demonstrasi menjadi kabar yang marak. Sekolah saya memberi instruksi agar [pelajar tidak ikut berdemo](https://magdalene.co/story/anak-ikut-demo-penggunaan-hak-partisipasi-politik-harus-dilindungi/) dengan alasan keamanan dan ârentannya seorang remajaâ. Mereka bilang, masa SMA bukanlah saatnya, dan suatu hari nanti kami akan belajar sendiri tentang demonstrasi di bangku perkuliahan.
Pernyataan itu menimbulkan pertanyaan besar: Jika pelajar dianggap [kelompok rentan](https://magdalene.co/tag/kelompok-rentan/), bukankah seharusnya kami juga berhak mendapatkan edukasi tentang demonstrasi demi keamanan kami sendiri? Larangan seperti ini justru membuka celah bagi pelajar untuk melakukan demonstrasi secara âilegalâ.
Kalau substansi demonstrasi pelajar adalah menuntut hak, saya mendukung. Namun ketika lapangan berubah menjadi ruang penuh bahaya, ikut turun ke jalan menjadi risiko yang tidak perlu diambil. Meski begitu, saya tidak setuju jika orang dewasa meredam suara kami dengan dogmaâseakan kami hanya harus fokus belajar dan mengabaikan panggilan hati. Keresahan pelajar nyata adanya. Masalah ini menunjukkan kegagalan negara dan masyarakat dalam menyediakan ruang aman untuk menyampaikan aspirasi.
Banyak pelajar merasa pelajaran sekolah tidak berguna, kecuali hanya untuk dihapal demi mendapatkan nilai bagus. Pendidikan Kewarganegaraan, misalnya, sering hanya berupa jawaban soal âpenerapan nilai-nilai Pancasilaâ atau âundang-undang dasarâ. Kami tidak diajarkan bagaimana memahami makna hak dan kewajiban secara kritis. Bahkan, berani mengkritisi aturan yang tidak relevan sering kali membuat kami dicap pembangkang.
Label âbelum cukup dewasaâ lebih terasa sebagai diskriminasi daripada perlindungan. Rasanya, jika kami turun ke jalan atau sekadar menyampaikan aspirasi, kami akan langsung dipersepsikan sebagai kriminal dan masa depan dianggap tidak pasti. Padahal, jika alasannya ruang tidak aman, seharusnya kita bersama-sama memikirkan cara menciptakan ruang aman, bukan menuduh pelajar sebagai biang kerok. Bukankah biang kerok sebenarnya adalah penyebab keresahan masyarakat?
**Baca Juga:** [Kejarlah Demonstran Pelajar, Kutangkap Polisi](https://magdalene.co/story/polisi-berburu-pelajar-yang-demo/)
## Ruang Aman dan Aspirasi Remaja
Meski banyak dari kami belum memiliki [hak pilih](https://magdalene.co/tag/perempuan-pejuang-hak-pilih-inggris/), kami tetap bagian dari masyarakat. Wajar jika kami juga merasakan keresahan yang sama. Pendidikan yang dijalani seharusnya menjadi sarana untuk memahami hak dan kewajiban, bukan hanya rutinitas menghapal.
Jika materi yang diajarkan terasa tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari, apakah wajar jika pelajar memilih menyuarakan ketidakpuasan? Tidak bolehkah pelajar menuntut hak untuk mendapatkan pendidikan yang lebih bermakna dan dapat diaplikasikan? Tidak bolehkah pelajar menuntut hak untuk menyampaikan aspirasi secara aman tanpa harus takut dianggap melanggar norma atau hukum?
Sebagai perempuan remaja, risiko yang saya hadapi bahkan lebih besar. Berada di kerumunan massa, meskipun sekadar ikut berdemo atau menyuarakan pendapat, dapat menimbulkan kekhawatiran akan [pelecehan seksual](https://magdalene.co/tag/pelecehan-seksual-1/) atau kekerasan dari aparat yang seharusnya melindungi masyarakat. Rasa takut ini bukan sekadar imajinasi. Pengalaman nyata di lapangan menunjukkan bahwa perempuan muda sering menjadi target [pelecehan verbal](https://magdalene.co/story/tips-atasi-kekerasan-verbal-digital/) maupun fisik.
Jika bungkam dianggap solusi, masalah tidak akan pernah selesai. Sebaliknya, membungkam aspirasi hanya menimbulkan penumpukan ketidakpuasan dan perasaan tidak berdaya. Kita hanya akan menjadi bangsa yang dipenuhi orang-orang saling membenci, tetapi tidak pernah berani menyebut penyebabnya secara terbuka.
Ruang aman untuk menyampaikan pendapat bagi remaja dan perempuan masih sangat terbatas. Di sekolah, diskusi yang seharusnya menjadi tempat untuk belajar berpikir kritis, sering kali berubah menjadi ruang penuh penilaian dan penghakiman. Banyak pelajar merasa suaranya kurang dihargai, bahkan kadang diabaikan karena dianggap terlalu muda atau terlalu emosional. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa tidak ada korelasi antara kemampuan berlogika dan [jenis kelamin](https://magdalene.co/tag/tes-jenis-kelamin/).
Dengan kata lain, penilaian terhadap pendapat seseorang seharusnya didasarkan pada isi dan kualitas argumen, bukan identitas atau usia pengemukanya. Mengabaikan aspirasi hanya karena siapa yang berbicara adalah [cacat logika](https://magdalene.co/story/jenis-logical-fallacy/): Argumen harus dinilai dari substansinya, bukan subjeknya.
Selain itu, ketidaktersediaan ruang aman membuat banyak pelajar, terutama perempuan, menahan diri dari menyuarakan pendapat. Hal ini berdampak pada pembelajaran sosial: Kami kehilangan kesempatan untuk belajar mengekspresikan diri, berdialog, dan bernegosiasi secara sehat. Diskusi yang inklusif dan aman bukan hanya memperkaya wacana, tetapi juga menumbuhkan keberanian, empati, dan kesadaran kritis.
Ruang aman memungkinkan remaja berkembang menjadi individu yang percaya diri, mampu berpikir kritis, dan siap mengambil peran dalam proses sosial dan politik di masa depan.
Artinya membangun ruang aman bukan sekadar memberi [kebebasan berbicara](https://magdalene.co/story/the-half-of-it-saat-kebebasan-dan-cinta-tak-selalu-manis/), tetapi juga memberikan pendidikan praktis tentang bagaimana menyampaikan aspirasi secara efektif, mendengarkan perspektif lain, dan menghadapi perbedaan pendapat tanpa kekerasan. Ruang seperti ini menjadi fondasi penting bagi pelajar untuk tumbuh sebagai warga negara yang aktif, sadar akan hak-haknya, dan mampu berpartisipasi dalam demokrasi secara bertanggung jawab.
**Baca Juga:** [Demonstrasi, Kecemasan Orang Tua, dan Pelajaran untuk Melepaskan](https://magdalene.co/story/demonstrasi-kecemasan-orang-tua-dan-pelajaran-untuk-melepaskan/)
## Diam Bukan Berarti Enggak Ada Suara
Di balik kerentanan, ada keberanian yang tumbuh. Kami belajar menyampaikan keresahan meski risiko dianggap vokal, keras, atau tidak sopan selalu mengintai. Label-label itu membatasi, membuat banyak pelajar, terutama perempuan, memilih diam agar diterima.
Diamnya pelajar tidak berarti tidak punya gagasan. Justru di balik diam itu ada ide segar, kritik tajam, dan keinginan untuk ikut menentukan arah perubahan. Namun tanpa [ruang inklusif](https://magdalene.co/story/bias-kelas-dalam-diskusi-clubhouse-dan-pentingnya-bangun-ruang-inklusif/), semua itu hanya berputar di kepala, tidak pernah sampai ke publik.
Budaya diskusi yang setara sangat penting. Diskusi tidak hanya soal siapa paling pintar berargumen, tetapi bagaimana semua suara bisa hadir tanpa takut diremehkan. Bagi pelajar, perempuan, minoritas, dan kelompok rentan, ruang aman adalah jalan menuju keberdayaan. Ini memungkinkan kami tumbuh menjadi individu percaya diri, mampu memimpin, dan berani menuntut hak. Masa depan bangsa dipertaruhkan melalui generasi ini.
**Baca Juga:** [3 Pelajaran dari Aksi Kamisan dalam Membangun Gerakan Sosial](https://magdalene.co/story/3-pelajaran-dari-aksi-kamisan-dalam-membangun-gerakan-sosial/)
Sudah saatnya berhenti melihat pelajar sebagai pengikut yang baik. Kami ingin berbicara, menantang, dan mendefinisikan ulang masa depan. Memberi ruang aman bukan kebaikan hati, tetapi kewajiban sosialâlangkah kecil menuju masyarakat lebih adil dan setara.
***Freya Kalyca Handayono menulis tentang isu sosial dan struktural dengan pendekatan kritis dan reflektif. Aktif mengembangkan gagasan melalui esai dan opini publik.***
#### Tags:
[anak SMA](https://magdalene.co/tag/anak-sma/) [aspirasi remaja](https://magdalene.co/tag/aspirasi-remaja/) [demo 2025](https://magdalene.co/tag/demo-2025/) [pendidikan kritis](https://magdalene.co/tag/pendidikan-kritis/) [perempuan dan partisipasi publik](https://magdalene.co/tag/perempuan-dan-partisipasi-publik/) [Ruang Aman](https://magdalene.co/tag/ruang-aman/)

###### About Author
#### Freya Kalyca Handayono
Penulis yang senang mengangkat isu-isu struktural dan sosial melalui ciri khasnya yang kritis dan reflektif. Gemar belajar dan aktif menulis sejak remaja.

Previous Post
### [In Defense of Wicked Women: Color-synchronized Protests and the Delusion of Infallible Heroes](https://magdalene.co/story/brave-pink-hero-green-indonesia-protest/)

Next Post
### [Makna di Balik âReshuffleâ Mendadak Kabinet Merah Putih](https://magdalene.co/story/apa-maksud-reshuffle-kabinet-prabowo/)
### Artikel Lainnya
[](https://magdalene.co/story/pernyataan-sikap-koalisi-media-alternatif-koma-mengecam-keras-komdigi-dan-dukungan-untuk-magdalene/)
### [Pernyataan Sikap Koalisi Media Alternatif (KOMA): Mengecam Keras Komdigi dan Dukungan Untuk Magdalene](https://magdalene.co/story/pernyataan-sikap-koalisi-media-alternatif-koma-mengecam-keras-komdigi-dan-dukungan-untuk-magdalene/)
KOMA melihat tindakan Komdigi yang melakukan pemblokiran tersebut merupakan bentuk pembungkaman terhadap kerja-kerja jurnalistik.
- 09/04/2026
- 10 Min Read
[](https://magdalene.co/story/pernyataan-sikap-koalisi-damai-sk-menteri-komdigi-tentang-disinformasi-dan-ujaran-kebencian-cacat-hukum-dan-mengancam-kebebasan-berekspresi/)
### [Pernyataan Sikap Koalisi Damai SK Menteri Komdigi Tentang Disinformasi dan Ujaran Kebencian Cacat Hukum dan Mengancam Kebebasan Berekspresi](https://magdalene.co/story/pernyataan-sikap-koalisi-damai-sk-menteri-komdigi-tentang-disinformasi-dan-ujaran-kebencian-cacat-hukum-dan-mengancam-kebebasan-berekspresi/)
Melihat rumusan SK ini, Koalisi Damai menilai justru terdapat tendensi untuk mengontrol arus informasi dan
- 09/04/2026
- 10 Min Read
[](https://magdalene.co/story/sephora-kids-dan-obsesi-perawatan-kulit-anak/)
### [Obsesi âKulit Sempurnaâ di Usia Belia: Sephora Kids dan Bayang-bayang Komersialisasi Kecantikan Anak](https://magdalene.co/story/sephora-kids-dan-obsesi-perawatan-kulit-anak/)
Kasus Sephora Kids menegaskan bagaimana industri kecantikan secara masif mengkomodifikasi anak-anak dan menjebak mereka dalam
- 09/04/2026
- 10 Min Read
[](https://magdalene.co/story/ayah-rumah-tangga-maskulinitas-baru/)
### [Ayah Rumah Tangga: Bukan âKurang Jantanâ, Tapi Wajah Baru Maskulinitas Indonesia](https://magdalene.co/story/ayah-rumah-tangga-maskulinitas-baru/)
Ayah rumah tangga di Indonesia masih sering dicap "kurang jantan". Padahal riset membuktikan bahwa keterlibatan
- 09/04/2026
- 10 Min Read
[](https://magdalene.co/story/abdul-manan-magdalene-perusahaan-pers-uu-pers/)
### [Abdul Manan: âMagdaleneâ adalah Perusahaan Pers yang Dilindungi UU Pers](https://magdalene.co/story/abdul-manan-magdalene-perusahaan-pers-uu-pers/)
Status badan hukum dan kerja-kerja jurnalistik rutin sejak 2014 menjadi bukti Magdalene adalah perusahaan pers
- 08/04/2026
- 10 Min Read
[](https://magdalene.co/story/vespa-primavera-sprint-180-indonesia/)
### [Vespa Primavera dan Sprint 180 Meluncur: Lebih Bertenaga, Terhubung, dan Ikonik](https://magdalene.co/story/vespa-primavera-sprint-180-indonesia/)
Vespa memperkenalkan Primavera 180 dan Sprint 180 dengan tenaga lebih besar, fitur digital, serta desain
- 08/04/2026
- 10 Min Read
[](https://magdalene.co/story/jotun-ramadan-2026-inspirasi-warna-rumah/)
### [Jotun Ajak Keluarga Hadirkan Hangatnya Kebersamaan dari Dalam Hunian](https://magdalene.co/story/jotun-ramadan-2026-inspirasi-warna-rumah/)
Jotun mendorong keluarga menghadirkan suasana rumah yang hangat dan penuh makna selama Ramadan melalui pilihan
- 08/04/2026
- 10 Min Read
[](https://magdalene.co/story/festival-peduli-autisme-2026-inklusi-depok/)
### [âTak Lagi Sendiriâ: Festival Peduli Autisme 2026 Dorong Ruang Inklusi dari Rumah Sendiri](https://magdalene.co/story/festival-peduli-autisme-2026-inklusi-depok/)
Festival Peduli Autisme 2026 di Depok membuka ruang belajar bersama tentang autisme, dari keluarga hingga
- 08/04/2026
- 10 Min Read
[](https://magdalene.co/story/belajar-menerima-diagnosa-gangguan-mental/)
### [Satu Tahun Berdamai dengan Diagnosis yang Sempat Saya Tolak](https://magdalene.co/story/belajar-menerima-diagnosa-gangguan-mental/)
Bagi saya, yang paling sulit setelah menerima diagnosis gangguan mental bukan stigma dari luar, melainkan
- 08/04/2026
- 10 Min Read
[](https://magdalene.co/story/lebaran-sudah-berlalu-lebam-mental-masih-membiru/)
### [Lebaran Sudah Berlalu, Lebam Mental Masih Membiru](https://magdalene.co/story/lebaran-sudah-berlalu-lebam-mental-masih-membiru/)
Lebaran mungkin telah usai, tetapi bagi sebagian orang, luka batin yang dipicu oleh komentar keluarga,
- 08/04/2026
- 10 Min Read
[](https://magdalene.co/story/menanti-kesimpulan-ptun-atas-penyangkalan-fadli-zon-soal-pemerkosaan-massal-1998/)
### [Menanti Kesimpulan PTUN atas Penyangkalan Fadli Zon Soal Pemerkosaan Massal 1998](https://magdalene.co/story/menanti-kesimpulan-ptun-atas-penyangkalan-fadli-zon-soal-pemerkosaan-massal-1998/)
Kesimpulan PTUN atas penyangkalan pemerkosaan massal 1998 oleh Fadli Zon bisa jadi titik balik penegakan
- 07/04/2026
- 10 Min Read
[](https://magdalene.co/story/sadvertising-tiktok-di-balik-ugc/)
### [Kegocek UGC TikTok Berkedok Kesedihan, Bagaimana Sebenarnya Etikanya?](https://magdalene.co/story/sadvertising-tiktok-di-balik-ugc/)
UGC TikTok seperti âlaundry Majapahitâ dan âbabyzillaâ mengaduk emosi audiens demi cepat viral. Namun, sejumlah
- 07/04/2026
- 10 Min Read
[](https://magdalene.co/story/ulasan-film-anak-na-willa/)
### [âNa Willaâ: Belajar Membaca Dunia dari Kacamata Anak-anak](https://magdalene.co/story/ulasan-film-anak-na-willa/)
Na Willaâ menempatkan anak sebagai pusat cerita, berhadapan dengan dunia orang dewasa yang penuh prasangka.
- 07/04/2026
- 10 Min Read
[](https://magdalene.co/story/dapur-sudah-lama-ajarkan-hemat-energi/)
### [Pak Menteri, Dapur Sudah Lama Ajarkan Hemat Energi](https://magdalene.co/story/dapur-sudah-lama-ajarkan-hemat-energi/)
Perempuan sudah lama mempraktikkan hemat energi dan air di dapur. Yang dibutuhkan bukan nasihat banal,
- 06/04/2026
- 10 Min Read
[](https://magdalene.co/story/temuan-riset-tingkat-kepuasan-penerima-mbg/)
### [Riset: Mayoritas Penerima Tak Rasakan Manfaat Makan Bergizi Gratis](https://magdalene.co/story/temuan-riset-tingkat-kepuasan-penerima-mbg/)
Riset terbaru menunjukkan penerima MBG tak merasa diuntungkan oleh program satu ini.
- 06/04/2026
- 10 Min Read
[](https://magdalene.co/story/beban-mental-kerja-perawatan-perempuan-liburan-keluarga/)
### [Tak Ada Hari Libur bagi Perempuan, Bahkan Saat Liburan](https://magdalene.co/story/beban-mental-kerja-perawatan-perempuan-liburan-keluarga/)
Beban mental sampai kerja perawatan yang tak terbagi sering kali jadi beban tak terlihat perempuan
- 06/04/2026
- 10 Min Read
[](https://magdalene.co/story/pernyataan-sikap-bersama/)
### [Pernyataan Sikap Magdalene-Komite Keselamatan Jurnalis: Pembatasan Berita oleh Komdigi Langgar Hukum](https://magdalene.co/story/pernyataan-sikap-bersama/)
Magdalene dan KKJ mendesak Dewan Pers untuk segera mengambil sikap atas peristiwa ini sebagai bentuk
- 06/04/2026
- 10 Min Read
[](https://magdalene.co/story/kader-posyandu-pahlawan-tanpa-suara-musrenbang-desa/)
### [Kader Posyandu Ujung Tombak Kesehatan Desa Tanpa Suara](https://magdalene.co/story/kader-posyandu-pahlawan-tanpa-suara-musrenbang-desa/)
Mereka tahu siapa bayi yang stunting, ibu hamil yang berisiko tinggi. Tapi saat musyawarah desa,
- 02/04/2026
- 10 Min Read
[](https://magdalene.co/story/indonesia-iran-shia-stigma/)
### [Sunni-Shia Polarization: A Recurring Fault Line in Times of Conflict](https://magdalene.co/story/indonesia-iran-shia-stigma/)
Indonesia is quick to show solidarity with Iran. But at home, Shia Muslims are still
- 01/04/2026
- 10 Min Read
[](https://magdalene.co/story/apa-itu-demonstrasi-no-kings-di-amerika/)
### [âNo Kings Protestâ: Jutaan Warga AS Turun ke Jalan, Bisakah Menginspirasi Indonesia?](https://magdalene.co/story/apa-itu-demonstrasi-no-kings-di-amerika/)
Delapan juta warga AS lintas generasi turun ke jalan dalam aksi âNo Kingsâ yang mengguncang
- 01/04/2026
- 10 Min Read
[](https://womenlead.magdalene.co/)
### Most Viewed Posts
- [5 Rekomendasi Film Lesbian Korea Terbaik yang Patut Ditonton](https://magdalene.co/story/film-lesbian-korea-terbaik/) (306,154)
- [âWarga Sudah Peringatkan tapi Tak Didengarâ: Banjir Sumatera Kini Telan Ratusan Korban](https://magdalene.co/story/bencana-sumut-peringatan-warga-diabaikan/) (159,280)
- [6 Film Gay Thailand Rekomendasi 2025](https://magdalene.co/story/rekomendasi-film-gay-thailand/) (122,559)
- [Queer Love: Kapan Seseorang Disebut Queer?](https://magdalene.co/story/queer-love-kapan-seseorang-disebut-queer/) (109,928)
- [The Night Grandpa Wanted Me in His Bedroom](https://magdalene.co/story/the-night-grandpa-wanted-me-in-his-bedroom/) (107,485)
[](https://magdalene.co/story/daftar-layanan-bantuan-kekerasan-terhadap-perempuan-dan-anak/)
Archives
## Related Posts
[](https://magdalene.co/story/neither-nor-and-nowhere-in-between-raising-a-gay-child-in-a-heterosexual-paradigm/)
[Margaret Agusta](https://magdalene.co/story/anak-sma-demo-2025/#molongui-disabled-link)
### [Neither, Nor and Nowhere in Between: Raising a Gay Child in a](https://magdalene.co/story/neither-nor-and-nowhere-in-between-raising-a-gay-child-in-a-heterosexual-paradigm/)
When his son came out to her at age 15, she thought about her grandmother's
[Issues](https://magdalene.co/category/issues/)
January 16
6 min read
[](https://magdalene.co/story/politisi-yang-tidak-biasa/)
[Devi Asmarani](https://magdalene.co/story/author/devi-asmarani/)
### [Politisi yang Tidak Biasa](https://magdalene.co/story/politisi-yang-tidak-biasa/)
Salah satu dari politisi perempuan Indonesia yang paling memberontak, Eva Kusuma Sundari tidak pernah takut
[Politics & Society](https://magdalene.co/category/issues/politics-and-society/)
June 23
8 min read
[](https://magdalene.co/story/reformasi-di-mana-sekarang/)
[Karima Anjani](https://magdalene.co/story/anak-sma-demo-2025/#molongui-disabled-link)
### [Reformasi: Di mana Sekarang?](https://magdalene.co/story/reformasi-di-mana-sekarang/)
Seorang mantan aktivis mahasiswa yang diculik militer pada 1998, dan seorang ekonom yang secara aktif
[Politics & Society](https://magdalene.co/category/issues/politics-and-society/)
June 23
6 min read

MAGDALENE is a bilingual online magazine that educates, empowers and push for a more equal society through solution-driven journalism.
#### Our Social Media
- [Facebook](https://www.facebook.com/MagdaleneIndonesia/?ref=bookmarks)
- [X](https://x.com/magdaleneid)
- [Instagram](https://www.instagram.com/magdaleneid/)
- [YouTube](https://www.youtube.com/magdaleneid)
- [TikTok](https://www.tiktok.com/@magdaleneid)
- [Threads](https://www.threads.com/@magdaleneid)
#### Women News Network
[](https://womennewsnetwork.id/)
Š2026 Magdalene all right reserved.
- [About us](https://magdalene.co/about/)
- [Write for us](https://magdalene.co/write-for-us/)
- [Partner with us](https://magdalene.co/partner-with-us/)
- [Press](https://magdalene.co/press/)
- [FAQ](https://magdalene.co/faq/) |
| Readable Markdown | Sebagai pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA), saya sering mendengar orang-orang yang âlebih dewasaâ mengatakan generasi muda adalah harapan bangsa. Karena itu, kami harus belajar dengan rajin. Namun banyak teman seusia saya justru berpendapat pelajaran di sekolah tidak akan berguna di kemudian hari. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: Seperti apa belajar itu seharusnya?
Di saat bersamaan, belakangan ini, demonstrasi menjadi kabar yang marak. Sekolah saya memberi instruksi agar [pelajar tidak ikut berdemo](https://magdalene.co/story/anak-ikut-demo-penggunaan-hak-partisipasi-politik-harus-dilindungi/) dengan alasan keamanan dan ârentannya seorang remajaâ. Mereka bilang, masa SMA bukanlah saatnya, dan suatu hari nanti kami akan belajar sendiri tentang demonstrasi di bangku perkuliahan.
Pernyataan itu menimbulkan pertanyaan besar: Jika pelajar dianggap [kelompok rentan](https://magdalene.co/tag/kelompok-rentan/), bukankah seharusnya kami juga berhak mendapatkan edukasi tentang demonstrasi demi keamanan kami sendiri? Larangan seperti ini justru membuka celah bagi pelajar untuk melakukan demonstrasi secara âilegalâ.
Kalau substansi demonstrasi pelajar adalah menuntut hak, saya mendukung. Namun ketika lapangan berubah menjadi ruang penuh bahaya, ikut turun ke jalan menjadi risiko yang tidak perlu diambil. Meski begitu, saya tidak setuju jika orang dewasa meredam suara kami dengan dogmaâseakan kami hanya harus fokus belajar dan mengabaikan panggilan hati. Keresahan pelajar nyata adanya. Masalah ini menunjukkan kegagalan negara dan masyarakat dalam menyediakan ruang aman untuk menyampaikan aspirasi.
Banyak pelajar merasa pelajaran sekolah tidak berguna, kecuali hanya untuk dihapal demi mendapatkan nilai bagus. Pendidikan Kewarganegaraan, misalnya, sering hanya berupa jawaban soal âpenerapan nilai-nilai Pancasilaâ atau âundang-undang dasarâ. Kami tidak diajarkan bagaimana memahami makna hak dan kewajiban secara kritis. Bahkan, berani mengkritisi aturan yang tidak relevan sering kali membuat kami dicap pembangkang.
Label âbelum cukup dewasaâ lebih terasa sebagai diskriminasi daripada perlindungan. Rasanya, jika kami turun ke jalan atau sekadar menyampaikan aspirasi, kami akan langsung dipersepsikan sebagai kriminal dan masa depan dianggap tidak pasti. Padahal, jika alasannya ruang tidak aman, seharusnya kita bersama-sama memikirkan cara menciptakan ruang aman, bukan menuduh pelajar sebagai biang kerok. Bukankah biang kerok sebenarnya adalah penyebab keresahan masyarakat?
**Baca Juga:** [Kejarlah Demonstran Pelajar, Kutangkap Polisi](https://magdalene.co/story/polisi-berburu-pelajar-yang-demo/)
## Ruang Aman dan Aspirasi Remaja
Meski banyak dari kami belum memiliki [hak pilih](https://magdalene.co/tag/perempuan-pejuang-hak-pilih-inggris/), kami tetap bagian dari masyarakat. Wajar jika kami juga merasakan keresahan yang sama. Pendidikan yang dijalani seharusnya menjadi sarana untuk memahami hak dan kewajiban, bukan hanya rutinitas menghapal.
Jika materi yang diajarkan terasa tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari, apakah wajar jika pelajar memilih menyuarakan ketidakpuasan? Tidak bolehkah pelajar menuntut hak untuk mendapatkan pendidikan yang lebih bermakna dan dapat diaplikasikan? Tidak bolehkah pelajar menuntut hak untuk menyampaikan aspirasi secara aman tanpa harus takut dianggap melanggar norma atau hukum?
Sebagai perempuan remaja, risiko yang saya hadapi bahkan lebih besar. Berada di kerumunan massa, meskipun sekadar ikut berdemo atau menyuarakan pendapat, dapat menimbulkan kekhawatiran akan [pelecehan seksual](https://magdalene.co/tag/pelecehan-seksual-1/) atau kekerasan dari aparat yang seharusnya melindungi masyarakat. Rasa takut ini bukan sekadar imajinasi. Pengalaman nyata di lapangan menunjukkan bahwa perempuan muda sering menjadi target [pelecehan verbal](https://magdalene.co/story/tips-atasi-kekerasan-verbal-digital/) maupun fisik.
Jika bungkam dianggap solusi, masalah tidak akan pernah selesai. Sebaliknya, membungkam aspirasi hanya menimbulkan penumpukan ketidakpuasan dan perasaan tidak berdaya. Kita hanya akan menjadi bangsa yang dipenuhi orang-orang saling membenci, tetapi tidak pernah berani menyebut penyebabnya secara terbuka.
Ruang aman untuk menyampaikan pendapat bagi remaja dan perempuan masih sangat terbatas. Di sekolah, diskusi yang seharusnya menjadi tempat untuk belajar berpikir kritis, sering kali berubah menjadi ruang penuh penilaian dan penghakiman. Banyak pelajar merasa suaranya kurang dihargai, bahkan kadang diabaikan karena dianggap terlalu muda atau terlalu emosional. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa tidak ada korelasi antara kemampuan berlogika dan [jenis kelamin](https://magdalene.co/tag/tes-jenis-kelamin/).
Dengan kata lain, penilaian terhadap pendapat seseorang seharusnya didasarkan pada isi dan kualitas argumen, bukan identitas atau usia pengemukanya. Mengabaikan aspirasi hanya karena siapa yang berbicara adalah [cacat logika](https://magdalene.co/story/jenis-logical-fallacy/): Argumen harus dinilai dari substansinya, bukan subjeknya.
Selain itu, ketidaktersediaan ruang aman membuat banyak pelajar, terutama perempuan, menahan diri dari menyuarakan pendapat. Hal ini berdampak pada pembelajaran sosial: Kami kehilangan kesempatan untuk belajar mengekspresikan diri, berdialog, dan bernegosiasi secara sehat. Diskusi yang inklusif dan aman bukan hanya memperkaya wacana, tetapi juga menumbuhkan keberanian, empati, dan kesadaran kritis.
Ruang aman memungkinkan remaja berkembang menjadi individu yang percaya diri, mampu berpikir kritis, dan siap mengambil peran dalam proses sosial dan politik di masa depan.
Artinya membangun ruang aman bukan sekadar memberi [kebebasan berbicara](https://magdalene.co/story/the-half-of-it-saat-kebebasan-dan-cinta-tak-selalu-manis/), tetapi juga memberikan pendidikan praktis tentang bagaimana menyampaikan aspirasi secara efektif, mendengarkan perspektif lain, dan menghadapi perbedaan pendapat tanpa kekerasan. Ruang seperti ini menjadi fondasi penting bagi pelajar untuk tumbuh sebagai warga negara yang aktif, sadar akan hak-haknya, dan mampu berpartisipasi dalam demokrasi secara bertanggung jawab.
**Baca Juga:** [Demonstrasi, Kecemasan Orang Tua, dan Pelajaran untuk Melepaskan](https://magdalene.co/story/demonstrasi-kecemasan-orang-tua-dan-pelajaran-untuk-melepaskan/)
## Diam Bukan Berarti Enggak Ada Suara
Di balik kerentanan, ada keberanian yang tumbuh. Kami belajar menyampaikan keresahan meski risiko dianggap vokal, keras, atau tidak sopan selalu mengintai. Label-label itu membatasi, membuat banyak pelajar, terutama perempuan, memilih diam agar diterima.
Diamnya pelajar tidak berarti tidak punya gagasan. Justru di balik diam itu ada ide segar, kritik tajam, dan keinginan untuk ikut menentukan arah perubahan. Namun tanpa [ruang inklusif](https://magdalene.co/story/bias-kelas-dalam-diskusi-clubhouse-dan-pentingnya-bangun-ruang-inklusif/), semua itu hanya berputar di kepala, tidak pernah sampai ke publik.
Budaya diskusi yang setara sangat penting. Diskusi tidak hanya soal siapa paling pintar berargumen, tetapi bagaimana semua suara bisa hadir tanpa takut diremehkan. Bagi pelajar, perempuan, minoritas, dan kelompok rentan, ruang aman adalah jalan menuju keberdayaan. Ini memungkinkan kami tumbuh menjadi individu percaya diri, mampu memimpin, dan berani menuntut hak. Masa depan bangsa dipertaruhkan melalui generasi ini.
**Baca Juga:** [3 Pelajaran dari Aksi Kamisan dalam Membangun Gerakan Sosial](https://magdalene.co/story/3-pelajaran-dari-aksi-kamisan-dalam-membangun-gerakan-sosial/)
Sudah saatnya berhenti melihat pelajar sebagai pengikut yang baik. Kami ingin berbicara, menantang, dan mendefinisikan ulang masa depan. Memberi ruang aman bukan kebaikan hati, tetapi kewajiban sosialâlangkah kecil menuju masyarakat lebih adil dan setara.
***Freya Kalyca Handayono menulis tentang isu sosial dan struktural dengan pendekatan kritis dan reflektif. Aktif mengembangkan gagasan melalui esai dan opini publik.*** |
| Shard | 20 (laksa) |
| Root Hash | 2633617813139370820 |
| Unparsed URL | co,magdalene!/story/anak-sma-demo-2025/ s443 |